Masjid yang Terjaga Ketika Dunia Memilih Tidur
Sepuluh malam
terakhir ramadan selalu menghadirkan pemandangan yang tidak mudah ditemukan
pada bulan-bulan lain. Masjid yang biasanya lenggang setelah salat tarawih
mendadak menemukan babak baru kehidupan ketika malam semakin larut.
Orang-orang
datang membawa tas kecil, sarung yang dilipat rapi, cemilan sedanya, Wajah-wajah
baru yang penuh haru Ā bahkan ada wajah-wajah
yang belum begitu familiar oleh pengurus yang ada. Kehadiran mereka, seperti jamaāah
musiman yang hanya muncul ketika ramadan hampir mencapai garis akhirnya.
Ibadah itu namanya iātikaf.
Bayangan tentang
iātikaf sering digambarkan terlalu sempurna. Seseorang duduk di sudut masjid,
membuka mushaf, membaca ayat demi ayat dengan penuh kekhusyukan hingga fajar
datang. Gambaran seperti itu memang ada, tetapi kehidupan iātikaf di masjid
sering kali jauh lebih āmanusiawiā daripada potret yang terlalu rapi tersebut.
Pada malam
iātikaf, masjid memiliki suasana yang unik. Orang-orang berdatangan satu per
satu lalu menyebar ke berbagai sudut ruangan. Sebagian memilih dekat mihrab,
sebagian lain bersandar pada tiang-tiang masjid, sementara yang lain mengambil
tempat di serambi yang terasa lebih lapang. Suasananya menyerupai sarang lebah
yang perlahan dipenuhi penghuni setelah senja. Geraknya tidak gaduh, tetapi
hidup.
Tilawah
Al-Qurāan terdengar sayup dari berbagai penjuru. Suara-suara itu tidak serempak, tidak pula
keras. Lantunannya berlapis-lapis seperti riak kecil yang saling bertemu di
permukaan air. Ada bacaan yang jelas dan terjaga nadanya, ada pula yang lirih
hampir seperti bisikan. Beberapa orang berhenti sejenak untuk menarik napas
sebelum melanjutkan ayat berikutnya.
Keindahan justru muncul dari ketidakteraturan
itu. Menjadikan suasana masjid terasa hidup oleh banyak suara yang āāberjalanāā
sendiri-sendiri, namun semuanya menuju arah yang sama. Beberapa jamaāah membaca
dengan sangat serius, setiap ayat Al-Qurāan seolah tidak ingin dilewatkan
begitu saja.
Sebagian lain berhenti membaca lalu memejamkan
mata sejenak karena kantuk yang datang tanpa permisi. Ada pula yang sekadar
duduk diam dengan mushaf terbuka di pangkuan, seperti sedang merenungi sesuatu
yang tidak selalu dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Menjelang tengah malam suasana perlahan
berubah. Sebagian orang masih tenggelam dalam tilawah, sementara sebagian lain
mulai melipat sarung lalu menggelarnya di lantai masjid. Tas kecil berubah
fungsi menjadi bantal sederhana. Sajadah dilipat dua sebagai alas kepala.
Masjid yang tadi dipenuhi suara bacaan perlahan dipenuhi napas orang-orang yang
tertidur. Mendengkur, nafas samar atau terkadang siulan tipis.
Pemandangan itu tidak terasa aneh. Sekelompok
manusia memilih bermalam di rumah Tuhan bukan karena tidak memiliki rumah,
melainkan karena ingin merasakan sesuatu yang jarang ditemukan dalam rutinitas
sehari-hari.
Waktu berjalan dengan ritme yang berbeda di
dalam masjid. Jam dinding tetap berdetak, tetapi tidak terasa mendesak. Orang
membaca Al-Qurāan tanpa dikejar target halaman. Dzikir mengalir tanpa tuntutan
untuk segera beralih pada kegiatan lain. Malam seperti ditarik lebih panjang
dari biasanya.
Qiyamullail akan dimulai.
Ketika malam sudah benar-benar tua, sekitar
pukul dua dini hari, suasana kembali berubah. Jamaah mulai terbangun satu per
satu. Sarung yang tadi menjadi selimut dilipat kembali, tak jarang juga dipakai
untuk sholat.
Sajadah dirapikan. Barisan perlahan terbentuk.
Masjid kembali hidup dengan cara yang lebih khidmat. Jamaah berdiri berbaris
rapi. Mata masih berat oleh kantuk, tubuh belum sepenuhnya segar, tetapi hati
seperti terpanggil untuk ikut berdiri.
Imam memulai bacaan.
Suara imam mengalun pelan, mendayu-dayu
memenuhi ruang masjid yang luas. Lantunan ayat terasa lembut seperti membelai.
Setiap kalimat memberi ruang bagi jamaāah
untuk mundur sejenak ke dalam dirinya sendiri, mengingat dosa yang pernah digoreskan,
kesalahan yang mungkin terlalu lama diabaikan.
Kesunyian menjadi semakin terasa.
Beberapa kepala tertunduk dalam-dalam.
Beberapa mata terpejam mengikuti alunan bacaan. Beberapa jamaah hanya berdiri
diam sambil membiarkan ayat-ayat itu jatuh perlahan ke dalam hati, sebagian
lainnya tak jarang sesenggukan mengiringi bacaan imam. Tubuh manusia tetap
memiliki batas.
Kaki yang biasanya kokoh untuk mencari nafkah
ternyata tidak sekuat itu disandingkan dengan rakaat lewat tengah malam. Mulai
kesemutan karena berdiri cukup lama, tidak sedikit jamaah menggeser posisi kaki
secara perlahan demi mencari keseimbangan baru tanpa mengganggu kekhusyukan
shalat, sembari terkadang garuk-garukĀ
lucu.
Sesekali terlihat tubuh yang sedikit
terhuyung. Kantuk yang masih berselimut di kepala membuat beberapa orang hampir
kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya kembali tegak. Kepala sempat menunduk
terlalu lama lalu tersadar ketika imam melanjutkan ayat berikutnya, atau sudah
waktunya untuk rukuk.
Dunia di luar masjid masih tertidur. Barisan
jamaāah di dalam masjid tetap berdiri, menahan lelah, menahan kantuk, sambil
mendengarkan ayat-ayat yang mengalir perlahan di udara. Suasana itu terasa
sederhana namun magis.
Sekelompok manusia berkumpul seperti
lebah-lebah yang kembali ke sarangnya. Setiap orang membawa cerita hidupnya
masing-masing. Ada yang datang dengan penyesalan, ada yang datang dengan
harapan, ada pula yang hanya ingin mendekat sedikit lebih lama daripada
biasanya.
Sepuluh malam terakhir Ramadan selalu
menghadirkan perasaan yang berbeda. Banyak orang memang datang untuk mencari
malam yang disebut lebih baik dari seribu bulan. Sebagian yang lain datang
untuk sesuatu yang jauh lebih sederhana.
Kesempatan untuk berhenti sejenak
dari kehidupan yang berjalan terlalu cepat.
Kesempatan untuk duduk, berdiri, dan bermalam lebih lama di rumah Tuhannya.







Komentar
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar