At-Thariqah Al-Mubasyirah (Direct Method) dan At-Tarjamah Nahwiyah (Grammar Translation Method) sebagai penunjang peningkatan bahasa asing Santri TISMA

Bahasa Arab adalah alat untuk memahami Al-Qur'an dan Hadits, yang menjadi sumber pedoman (keyakinan, ibadah, mu’amalat, hidup) umat Islam. Inilah salah satu yang mendorong kita sebagai umat Islam untuk mempelajari bahasa Arab. Banyak sekolah Islam yang memberikan perhatian untuk pengajaran bahasa Arab, bahkan pengajarannya dimulai dari sejak Sekolah Dasar sampai Perguruan Tinggi. Tsurayya Islamic School Malang (TISMA) sendiri menjadi salah satu lembaga yang memberikan perhatiannya kepada bahasa asing (bahasa Arab dan bahasa Inggris). Hal ini dapat kita lihat bahwa segala komunikasi yang berlangsung antara Ustadz dan santri dengan kedua bahasa tersebut. Selain itu, buku-buku dan bahan ajar yang digunakan didalam kurikulum diniyah adalah berbahasa Arab, baik pembelajaran pagi maupun kajian kitab turots malam harinya. Sehingga untuk memahami konten yang ada didalamnya harus benar-benar paham bahasa Arab, dalam hal ini TISMA menerapkan kombinasi 2 metode, yaitu At-Thariqah Al-Mubasyirah (Direct Method) dan At-Tarjamah Nahwiyah (Grammar Translation Method) dalam pembelajarannya.

1. At-Thariqah Al-Mubasyirah (Direct Method)

Metode ini disebut juga metode langsung, yang artinya cara menyajikan materi pelajaran dalam bahasa asing, dimana Ustadz langsung menggunakan bahasa asing itu sendiri sebagai bahasa pengantar, dan tidak menggunakan bahasa ibu (bahasa Indonesia) dalam mengajar. Metode ini sesuai dengan sifat bahasa, yaitu mendengar kemudian mengucapkan. Sehingga kesuksesannya bergantung kepada banyaknya latihan santri dalam mendengarkan, simulasi, dan komunikasi supaya dapat mengucapkan bahasa Arab dan Inggris secara otomatis. Metode ini menunjukkan keberhasilannya dalam pengajaran bahasa Arab di Pondok-pondok pesantren modern seperti Gontor. Sebagai contoh penerapan motode ini, jika ditengah pembelajaran ada kata-kata yang sulit dipahami oleh santri, maka Ustadz akan menjelaskan dengan mendemonstrasikan, memperagakan, menunjukkan dll, tanpa menerjemahkan kedalam bahasa Indoensia. Metode ini muncul sebagai reaksi ketidakpuasan terhadap hasil pengajaran bahasa dari metode sebelumnya, yang memperlakukan bahasa sebagai sesuatu yang mati.

Karakteristik dari metode ini adalah: memberi prioritas yang tinggi pada keterampilan berbicara, teknik pembelajarannya bersifat demonstratif dengan cara menirukan dan menghafal. Sehingga dengan metode seperti ini santri akan menjadi lebih semangat belajar, karena interaksi yang terjadi antara Ustadz dan santri lebih aktif, teknik menirukan dan menghafalkan akan lebih mendorong keikutsertaan santri dalam pembelajaran bahasa Arab dan Inggris, dan santri akan termotivasi untuk menyebutkan kata-kata asing yang telah diperoleh dari Ustadz, karena metode yang digunakan Ustadz adalah menggunakan alat peraga, dan berbagai media yang menyenangkan, seperti video, film, radio (audio) dan berbagai media yang telah disiapkan Ustadz. Kelebihan dari metode ini diantaranya: Santri terampil menyimak dan berbicara karena mereka mendapat banyak latihan dalam muhadatsah/ conversation, menguasai pelafadzan/ pronunciation dengan baik, mengetahui banyak mufrodat/ vocabularies dan pemakaiannya dalam kalimat, memiliki keberanian dan spontanitas dalam berkomunikasi, dan mengetahui tata bahasa secara fungsional tidak sekedar teoritis. Metode ini menuntut para Ustadz yang ideal dari segi keterampilan berbahasa (mempunyai kelancaran berbicara) dan kelincahan dalam penyajian pelajaran. Sementara itu, kelemahan dari metode ini adalah: Lemahnya kemampuan santri dalam membac, menganalisa gramatikal/ nahwu shorof untuk pemahaman,materi, karena materi dan latihan yang disediakan lebih menekankan pada keterampilan berbahasa lisan. Namun demikian, untuk menambal kelemahan ini TISMA juga mengimbanginya dengan At-Tarjamah Nahwiyah (Grammar Translation Method).

2. At-Tarjamah Nahwiyah (Grammar Translation Method)

Metode ini adalah metode pengajaran bahasa asing yang fokus pada penguasaan tata bahasa (nahwu shorof atau grammar) dan penerjemahan, di mana santri mempelajari kaidah tata bahasa dan menghafal kosakata untuk menerjemahkan teks antara bahasa ibu dan bahasa asing (Arab atau Inggris). Dimana Fokus utamanya adalah menganalisis dan menerapkan aturan gramatikal/ nahwu shorof, bukan pada penggunaan bahasa secara lisan dalam percakapan sehari-hari. Penerapan metode ini di TISMA diterapkan dalam kajian kitab-kitab turots, seperti; Syamail Muhammadiyah, Ta’lim Muta’allim, Ayyuhal Walad, At-Tibyan fi Adabi hamalatil Qur’an, dan Risalah Jami’ah.

Karakteristik dari metode ini diantaranya adalah; fokus pada tata bahasa dan kosakata, karena santri mempelajari aturan-aturan tata bahasa secara eksplisit dan menghafalkan daftar kosakata. Penerjemahan sebagai inti, karena tugas utama santri adalah menerjemahkan kalimat atau teks dari bahasa asing ke bahasa ibu. Penggunaan bahasa Ibu, karena Ustadz cenderung menjelaskan materi menggunakan bahasa ibu santri untuk membantu pemahaman yang lebih mendalam tentang konsep gramatikal/ nahwu shorof. Kurangnya fokus pada komunikasi lisan, karena metode ini tidak memberikan banyak penekanan pada keterampilan berbicara dan mendengarkan, serta interaksi lisan antar santri atau dengan Ustadz. Kelebihan dari pada metode ini adalah; Memperdalam pemahaman struktur, dengan membantu santri memahami struktur kalimat dan kaidah gramatikal/ nahwu shorof dari kedua bahasa secara mendalam. Memperluas kosakata, dengan penerjemahan secara konstan memperluas perbendaharaan kosa kata santri. Memfasilitasi pemahaman membaca dan menulis, karena santri dapat mengembangkan keterampilan membaca dan menulis dalam bahasa asing tersebut. Mengurangi stres Ustadz, karena beberapa Ustadz yang kurang fasih dalam bahasa asing tetap dapat mengajar secara efektif menggunakan metode ini.

Dengan penerapan kedua metode ini yaitu At-Thariqah Al-Mubasyirah (Direct Method) dan At-Tarjamah Nahwiyah (Grammar Translation Method) dalam pembelajarannya, TISMA berharap para santri mampu memahami bahasa arab yaitu bahasa Al-Qur'an dan Hadits Nabi, baik lisan/ percakapan, maupun analisa gramatikal/ nahwu shorof Sehingga diharapkan menjadi generasi Qur’ani, Rabbani, dan Mandiri.

Komentar

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar