Tuhan dan Masa Pencarian

Judul Buku                                 : Sejarah Tuhan
Penulis                                        : Karen Amstrong
Penerbit                                      : Mizan
Diterjemah dan penerjemah   : a history of god: the 4.000-year quest of Judaism, christianity and Islam, Zainul Am
Tebal                                            : 557 halaman
Resensator                                 : Moe’alleem Tisma

Perjalanan pencarian tuhan sangatlah asyik. Bagaimana tidak?, hal ini terbukti bahwa dari satu zaman ke zaman lain terdapat konsepsi yang berbeda tentang tuhan. Dari tuhan abstrak, sampai kepada tuhan yang dibuat "kongkrit" dan kemudian kembali lagi pada yang abstrak. Maka sangatlah wajar apabila terdapat pandangan tuhan yang abstrak masih ada perbedaan. Sebut saja disini para tuhan monotheis (Yahudi, Kristen dan Islam). ketiga agama langit ini mempunyai pandangan masing-masing tentang tuhan.

Selain tuhan-tuhan para agama langit tersebut, terdapat pula tuhan para sufis, tuhan teosof, tuhan filosof, tuhan mistikus, tuhan reformis dan tuhan-tuhan para pagan. Diluar tuhan-tuhan mereka yang telah kami sebutkan, parahnya lagi ada kelempok yang tidak percaya dengan tuhan atau lebih dikenal atheis. Dan diantara theis dan atheis, Nietzche salah seorang filosof  Eropa yang mengatakan "tuhan telah mati" (terlepas nantinya terdapat interpretasi ganda), dari kalimat pernyataan itu mengandung sebuah makna yang pada awalnya percaya terhadap tuhan, akan tetapi "mungkin" karena ketidakpuasannya, kemudian secara diam-diam mengakui tuhan yang ia yakini telah mati.

Mendeskripsikan Tuhan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan dan tidak seberat memikul gunung. Mengapa begitu?, tentu, karena terdapat banyak contoh kejadian dari awal munculnya agama-agama yang diyakini oleh nenek moyang kita. Salah satunya, ketika awal munculnya konsep tuhan serentak seraya berkata: Tuhan Itu Esa. Tentunya, fenomena tersebut tidak terlepas dari sebuah doktrinitas yang terkadang commen sense tidak menerima, dan ini sangat memberatkan. Akan tetapi, waktu demi waktu tuhan tidak bisa dipertanggung jawabkan keberadaannya, bahkan mereka diam-diam membuat tuhan sesuai dengan  apa yang mereka inginkan, yang mana hal ini bisa dikatakan sangatlah mudah. Selain itu, terdapat pula faktor yang mendukung seseorang untuk memberikan gambaran atau ide-ide tuhan, semisal sosio-kultural dan letak geografis dimana orang itu bertempat tinggal.

Bentuk pendeskripsian gaya tuhan tersebut dimulai dari awal munculnya manusia yaitu Adam -­­­sebagai homo sapiens dan juga sebagai homo relegius- sampai pada masa di mana kita semua hidup sekarang ini.

Adalah Karen Amstong, salah seorang diantara sekian banyak orang di muka bumi ini yang telah mengkaji secara mendalam awal munculnya konsepsi tuhan yang tak kunjung selesai itu. Ketika ia melihat fenomena historisitas ketuhanan, benaknya juga pernah merasakan agama yang ia peluk terdapat sebuah kejanggalan. Akhirnya ia memberikan sebuah tawaran buku tentang wacana sejarah tuhan, dengan judul: a history of god: the 4.000-year quest of Judaism, christianity and Islam. Kemudian buku ini dialih bahasakan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Buku dengan judul yang memukau ini cukup mewakili sebagai gambaran awal munculnya pandangan dan kesimpulan tentang tuhan. Sorotan buku ini, mengupas gambaran tuhan tiga agama langit atau monotheis. Selain itu, ia juga menceritakan tentang pengalaman-pengalaman agama-agama pagan, politheis dsb, tentang pencarian tuhan.

Buku tersebut mempunyai beberapa bagian. Pertama, ia menceritakan tentang mengalaman pribadinya ketika sebagai biarawati. Menurutnya, ia sama sekali tidak mempunyai pengalaman yang istimewa ketika menjadi biarawati. Ia juga menambahkan bahwa gagasan tentang tuhan sudah terbentuk saat ia masih kecil dan kemudian tidak ada sebuah perkembangan yang sangat signifikan, sebagaimana ia mempelajari disiplin ilmu yang lain.

Setelah ia melalui masa kanak-kanaknya, ia membaca kisah-kisah kehidupan para rahib dan mempelajari tulisan-tulisan mistik sederhana. Tapi, ia pun tidak menemukan gagasan dan kecocokan tentang tuhan yang nantinya bisa dijadikan sebuah sandaran olehnya. Dan bahkan pengakuan di ndalam buku yang ditulis, tuhan belum bisa hadir "di depannya". Setelah itu, ia juga mulai merasa skeptis atau meragukan  agama yang semasa itu ia peluk. Salah satunya ia mengemukakan pertanyaan, "bagaimana mungkin manusia mengetahui secara pasti bahwa Yesus merupakan reinkarnasi Tuhan dan apa arti kepercayaan itu?" tanyanya, sembari mengejek konsep trinitas. Semua pengalaman hidupnya termaktub dalam pendahuluan buku tersebut.

Kedua, setelah ia menggambarkan pengalamannya -dalam buku tersebut- di masa kecil dan pada saat dewasa ia mulai menggunakan akalnya, lalu ia mencoba menceritakan tentang tuhan-tuhan yang dianut oleh bangsa Israel. Seperti Yahweh, Yesaya dan tuhan orang-orang Yahudi sendiri. Terlepas, apakah di sana terdapat sebuah perbedaan yang mencolok antara paham Yesaya atau Yahudi sendiri. "Jika tuhan Musa sang penakluk, tuhan Yesaya sarat dengan kesedihan", sebagaimana yang dipaparkan dan tertulis dalam buku tersebut.

Kemudian setelah lama mengkaji tuhan Israel itu, Karen Amstrong beralih kepada tuhan yang dipercayai oleh orang-orang Nasrani. Sekitar 320 M. perdebatan akan kesucian tuhan Bapa, tuhan Anak dan ruh kudus mulai diperdebatkan. Dimulainya dari gereja-gereja Mesir, Syiria dan Asia kecil, para pelancong dan pelaut menggugat konsep trinitas itu. Disebutkan bahwa tuhan Bapa adalah sejati, sedangkan sang putra tidaklah abadi dan bukannya tidak diciptakan, karena dia mendapatkan kehidupan dan wujud dari Bapa. Ini terbukti, Arius seorang pemuka gereja yang tampan dan mempunyai karismatik dari Alexandria, berargument bahwa Yesus sendiri mengakui bahwa tuhan Bapa lebih agung dari dirinya sendiri. Perdebatan pun mulai memanas, dan tiada akhir, dikarenakan konsep trinitas memang mengandung ambiguitas.

Dan kita akan  beralih  pada tempat kering nan tandus. Arab adalah tempat yang sangat gersang yang bisa dikatakan sangatlah jauh dari sebuah peradaban. Namun, sekitar 6 abad-an mulai membenah diri dengan melancarkan sebuah kegiatan ekonomi, caranya dengan berdagang. Setelah mereka sukses dalam perdagangan. Ideologi kesukuan mulai tergeser oleh kapitalisme ketika itu. Muhammad pun ada dalam dinamika tersebut. Kehidupan yang keras mulai terulang lagi, cuma ada sebuah perbedaan. Kalau sebelumnya mereka hidup nomadenik karena sekedar untuk mempertahankan hidup, dan ditambah lagi antara satu dengan yang lainnya sangat membantu. Ketika perdagangan memuncak, dimulailah sebuah individualisme dan kapitalisme. Salah satu penyebabnya, karena orang-orang Quraisy kering akan spiritual. Oleh karena itu, datanglah Muhammad sebagai pengemban risalah dari tuhan untuk memberikan problem solver pada orang-orang Jahiliyah itu.

Semua di atas adalah gambaran kecil dari buku yang dipresentasikan oleh Karen Amstrong. Buku ini lumayan menarik dibaca karena menyingkap tentang pencarian tuhan-tuhan yang belum diketahui "dimana".

 

Komentar

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar