Inspirasi Ramadan untuk Pendidikan

Ramadan, berulang kali datang menghampiri hidup kita. Selama itu pula Ramadan tidak pernah kehilangan daya magis-nya. Ramadan selalu membuat kita bahagia menyambut kedatangannya. Dan Euforia tentang bulan yang suci ini, sama kita rasakan setiap tahunnya. Ya, karena Ramadan selalu datang dengan segala keutamaannya tanpa berkurang sedikit pun.

Dengan segala kebaikan yang Allah SWT titipkan bersamanya, Ramadan juga menjadi gudang inspirasi bagi siapapun yang menghendakinya. Kita lihat saja di Masjid-Masjid dan Kampung-kampung hampir selalu ada program baru nan menarik setiap bulan Ramadan. Dalam dunia pendidikan pun, seharusnya Ramadan juga bisa ikut menginspirasi.

Inspirasi pertama adalah tentang niat. Para ulama sepakat bahwa puasa tanpa niat adalah tidak sah. Bahkan jika seseorang benar-benar lupa belum berniat, maka sudah pasti keabsahan puasanya terganggu. Sebegitu pentingnya posisi niat dalam suatu ibadah. Termasuk niat dalam pendidikan. Bagi guru maupun siswa, harus memastikan niat mereka baik dan benar dalam mengarungi dunia pendidikan yang tidak sebentar ini.

Madrasah “Inspirasi” Bagi Pendidik

Guru harus sering bertanya-tanya pada dirinya sendiri sudah benar dan baikkah niatnya dalam mendidik dan mengajar siswa-siswanya. Hal ini harus rutin dilakukan karena tidak sedikit dari para guru yang niat awalnya benar-benar tulus mendidik dan mengajar.

Namun dengan berjalannya waktu, tidak jarang mulai muncul beragam hal yang mengotori atau minimal mengeruhkan niat awal yang suci dan bersih.

Sungguh menjaga niat tidaklah mudah tapi harus selalu diupayakan. Sekali lagi, niat menentukan apa yang akan didapatkan seseorang dari sebuah pekerjaan. Bukankah Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam yang mengatakan demikian.

Ketika niat seorang guru sudah baik dan benar maka dia bisa menularkan hal tersebut kepada siswanya, karena sesungguhnya siswa hanya mengikuti apa yang dilakukan gurunya.

Inspirasi selanjutnya adalah tentang tujuan. Sebagaimana difirmankan Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 183 bahwa tujuan disyariatkan puasa agar mendidik kita menjadi hamba yang bertakwa. Pun dengan tujuan dalam mendidik.

Saat mendidik, seorang guru harus bertujuan menjadikan siswanya menjadi pribadi yang bertakwa. Sejak awal tujuan ini jangan sampai berubah. Di jenjang manapun, siswa harus diajarkan untuk menjadi pribadi yang bertakwa.

Hal ini selaras dengan tujuan pendidikan nasional yang tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3. Namun di lapangan, kenyataan berbanding terbalik. Siswa dituntut untuk mendapatkan nilai yang tinggi dengan menghalalkan segala cara. Ukuran keberhasilan siswa seringkali diukur dari berapa banyak prestasi akademik yang diraih. Sisi ketakwaan hampir tidak dihiraukan.

Seorang anak memilih masuk TK favorit agar bisa lanjut ke SD favorit. Yang dari SD bertujuan agar bisa tembus ke SMP favorit. Begitu seterusnya sampai jenjang kuliah agar mendapat ijazah yang layak yang dengannya mendapatkan pekerjaan yang sesuai. Dimana letak ketakwaan yang  menjadi tujuan pendidikan. Lihat saja hasil output kebanyakan dari pendidikan dengan model seperti itu.

Inspirasi selanjutnya adalah tentang sabar dan menahan diri. Sebagaimana maknanya, puasa berarti menahan diri dari segala hal yang dapat membatalkan puasa dan mengurangi pahalanya. Dalam dunia pendidikan dan pengajaran, guru juga harus terus belajar untuk bersabar dan menahan diri. Guru tidak boleh lupa bahwa pendidikan sebagaimana bercocok tanam yang membutuhkan proses tidak sebentar.

Mari Kita Refleksikan!

Tidak ada guru yang tidak berharap siswanya menjadi pribadi yang berhasil dalam belajarnya. Buah keberhasilan yang diharapkan tersebut tidak bisa instan dan “sim salabim”. Sebagaimana tanaman yang butuh disirami, dipupuk dan dihindarkan dari hama agar menghasilkan buah terbaik.

Begitu pun dengan siswa. Mereka butuh untuk selalu ditemani dalam tumbuh kembang kita. Nasehat, teguran dan motivasi dari guru menjadi faktor besar yang menentukan keberhasilan siswa.

Akhirnya, mari kita jadikan bulan suci Ramadhan untuk refleksi diri dalam proses mendidik siswa. Rasulullah bersabda bahwa seorang yang puasa akan mendapatkan dua kebahagiaan. Pertama saat dia menyantap buka puasa dan yang kedua saat bertemu dengan Allah kelak.

Maka begitupun para guru juga akan mendapatkan dua kebahagiaan. Kebahagiaan saat melihat anak didiknya sukses dan kebahagiaan yang sesungguhnya adalah saat segala didikannya ternyata menjadi amal jariyah yang tak terputus meski umur di dunia sudah berhenti.

*) Penulis Adalah Koordinator Kurikulum Diniyah Tsurayya Islamic School Malang (TISMA).

Komentar

Belum ada komentar.

Tinggalkan Komentar