Bersama Olan Menggapai Impian
“Kalau hidupmu lima tahun ke depan baik-baik saja, menurutmu…bentuknya seperti apa?” Pertanyaan yang terdengar sederhana, tapi tidak semua orang berani menjawabnya dengan jujur. Olan menjawabnya tanpa banyak romantisasi. Ia membayangkan dirinya lulus SMA dengan predikat yang baik, bukan yang terbaik, tapi cukup untuk melangkah ke tahap berikutnya.
Olan ingin masuk universitas impiannya, meski hingga kini belum sepenuhnya menentukan jurusan. Antara dunia bisnis atau AKPOL, dua jalur yang sama-sama menuntut disiplin dan tanggung jawab. Yang jelas, ia ingin belajar lebih banyak tentang bisnis. Bukan sekedar teori, tapi dari kehidupan nyata.
Di tengah ambisi itu, ada satu hal yang ingin ia jaga agar tidak berubah, hubungannya dengan orang tua dan nilai moral yang ia pegang. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak hidup dengan cara yang melukai kepercayaan orang tua serta tidak menghambur-hamburkan uang, tidak menjalani gaya hidup yang berlebihan, dan tetap berada dalam koridor syariat islam. Karena bagi Olan, membahagiakan orang tua bukan bonus hidup, melainkan tujuan.
Namun, seperti kebanyakan anak muda, Olan juga memiliki ketakutan. Ketakutan terbesarnya bukan soal karier atau status sosial, melainkan kehilangan orang tua. Ia juga takut gagal, takut semua usaha, pengorbanan, dan pendidikan tinggi yang ia tempuh berakhir sia-sia. Sebuah ketakutan yang ia anggap wajar, terutama bagi seorang laki-laki yang sadar akan tanggung jawab masa depan.
Saat ditanya apakah masa depan itu sesuatu yang harus dikejar atau dijalani, Olan memilih untuk menjalani. Ia tetap memiliki tujuan, tapi tidak ingin terjebak hanya pada garis akhir. Menurutnya, hidup akan terasa melelahkan jika terus menunduk mengejar target, tanpa benar-benar memperhatikan jalan yang sedang dipijak hari ini. Proses, bagi Olan, sama pentingnya dengan hasil.
Memikirkan masa depan membuatnya
berada di dua perasaan sekaligus: semangat dan cemas. Semangat karena ia telah
menyusun strategi, cemas karena selalu ada kemungkinan rencana itu gagal. Dan
jika satu rencana gagal, bisa jadi rencana lain ikut runtuh. Kekhawatiran yang
jujur, tanpa topeng motivasi palsu.
Olan juga punya pandangan yang cukup realistis, bahkan berani-tentang masa depan. Menurutnya, masa depan tidak sepenuhnya ditentukan oleh usaha, tapi juga oleh keadaan, atau yang sering disebut privilege. Ia menyadari bahwa tidak semua orang memulai dari titik yang sama. Ada yang dengan usaha kecil bisa melompat jauh karena lahir di keluarga berada, sementara yang lain harus bekerja dua kali lebih keras hanya untuk bertahan. Kesadaran ini tidak membuatnya menyerah, justru membuatnya lebih membumi.
Lalu, apa yang bisa ia lakukan sekarang?
Membangun relasi. Itulah langkah
paling realistis menurutnya. Ia sering mengikuti ayahnya yang bekerja di
restoran, mengamati langsung bagaimana sebuah bisnis dijalankan—dari mengelola
aset, menjaga relasi, hingga memahami dinamika kerja di lapangan. Di sanalah ia
belajar bahwa masa depan tidak hanya dibangun di bangku kelas.
Jika suatu hari semua rencananya gagal, Olan tahu satu hal yang masih bisa ia pegang: Allah. Ia percaya, tidak ada jalan yang benar-benar buntu selama doa dan ikhtiar berjalan bersama. Jika satu pintu tertutup, selalu ada pintu lain yang disiapkan.
Menariknya, ketika ditanya apakah ia lebih memilih sukses atau tenang, Olan menjawab sukses. Baginya, ketenangan tanpa perjuangan berpotensi menjadi jebakan—zona nyaman yang membuat seseorang berhenti tumbuh. Ia lebih memilih lelah karena bekerja keras daripada diam tanpa arah.
Ia juga sadar, sebelum melangkah lebih jauh, ada banyak hal dalam dirinya yang perlu dibenahi. Rasa malas, cara belajar yang belum serius, serta sifat-sifat yang tidak pantas—termasuk kecenderungan berbangga diri dengan latar belakang keluarga. Kesadaran ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju masa depan bukan hanya soal pencapaian, tapi juga pembenahan diri.
Di antara semua target dan ambisi,
ada satu nilai yang tidak ingin ia korbankan: agama. Ia bahkan mengakui, tanpa
tuntutan, mungkin ia tidak akan sungguh-sungguh belajar agama. Namun justru
tuntutan itulah yang membentuk rasa tanggung jawabnya sebagai seorang Muslim.
Tanpanya, hidup bisa saja hanya berputar pada uang dan relasi semata.
Bagi Olan, hidup mapan berarti mapan secara finansial. Bukan untuk pamer, melainkan agar bisa mengelola emosi dengan lebih stabil dan tetap berkembang secara intelektual. Ia sadar, di zaman ini, hampir semua hal berkaitan dengan uang—bahkan untuk bertahan hidup.
Namun, “cukup” baginya bukan sekadar angka. Cukup adalah ketika hati tenang, kewajiban kepada Allah tetap terjaga, dan kebutuhan finansial terpenuhi.
Di akhir wawancara dan refleksinya, Olan menitipkan satu doa sederhana kepada masa depan:
“Semoga kamu menjadi seperti yang
aku rencanakan hari ini.”







Komentar
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar