“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam, ...hendaklah ia memuliakan tetangganya, ... hendaklah ia memuliakan tamunya.”
Mengkaji Nasihat Imam Ghazali dalam Kajian Selasa Malam
“Kesehatan itu mahal,” ucap Ustadz Wahyu Eko. Kalimat ini mengingatkan para santri bahwa kesehatan adalah nikmat yang sering kali luput dari rasa syukur. Sebuah nikmat yang tidak bisa dibeli di mana pun.
Beliau kemudian bercerita tentang pengalamannya ketika mengabdikan diri di sebuah lembaga. Pada suatu waktu, orang tua beliau mengalami kesulitan buang hajat. Bahkan untuk sekadar mengeluarkan angin pun terasa sangat susah. Setelah diberi obat dan berbagai penanganan, barulah angin keluar sedikit, hingga spontan terucap hamdalah dari lisannya. Namun setelah diselidiki lebih lanjut, ternyata terdapat infeksi pada bagian perut yang mengharuskan dilakukan operasi besar.
Itu baru persoalan fisik, belum lagi masalah finansial yang tentu tidak sedikit. Dari kisah ini, beliau menegaskan bahwa menjaga kesehatan adalah kewajiban, karena kesehatan merupakan titipan dan amanah dari Allah.
Materi kajian rutin malam Selasa ini mengutip dari kitab Ayyuhal Walad karya Imam Al-Ghazali, yang disampaikan oleh Ustadz Wahyu Eko. Dalam kitab tersebut disebutkan:
“Jadikanlah ambisi, cita-citamu dalam hati, dan penaklukan siksaan dalam tubuh, serta kematian dalam badan. Karena tempat tinggalmu di masa depan adalah di dalam kubur.”
Beliau menjelaskan bahwa dalam memiliki ambisi atau cita-cita, seseorang tidak perlu menyampaikannya kepada orang yang tidak berkepentingan. Ambisi sebaiknya dijaga dalam diri sendiri atau dalam lingkup pengelola internal. Sebab, ketika ambisi tersebut diketahui oleh pihak luar yang tidak berkepentingan, maka terbuka peluang bagi ambisi itu untuk diintervensi.
Beliau juga menjelaskan makna “menjadikan kematian dalam sekujur badan”, yaitu bahwa meskipun jasad telah mati, ilmu, jasa, dan kebaikan yang ditinggalkan tetap hidup. Amal-amal baik tersebut akan terus mengalir selama bentuk kebaikannya masih ada dan manfaatnya masih dirasakan oleh orang lain.
Kembali mengutip dari kitab tersebut, beliau mengingatkan agar jangan sampai ketika penduduk kubur sedang menunggu, kita datang menghampiri mereka tanpa membawa bekal. Bekal itu adalah ketakwaan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:
فإن خير الزاد التقوى
Karena tidak ada bekal terbaik ketika menghadap kepada-Nya selain ketakwaan.
Maka umur kita di dunia ini tidaklah lama. Sedangkan setelah kematian terdapat kehidupan yang tidak fana.
Beliau juga menyampaikan bahwa keimanan tidak hanya berkaitan dengan hubungan spiritual antara hamba dan Tuhannya, tetapi juga berkaitan erat dengan hubungan sosial dalam bermasyarakat. Hal ini berlandaskan hadits:
من كان يؤمن بالله واليوم الآخر، فليقل خيرا أو ليصمت، ...فليكرم جاره، ... فليكرم ضيفه







Komentar
Belum ada komentar.
Tinggalkan Komentar